Kamis, 23 Mei 2013

PERIODISASI SASTRA INDONESIA DAN KARYANYA



Indonesia kaya dengan karya sastra, mulai dari periode Pujangga Lama sampai Angkatan 2000an. Periode-periode sastra Indonesia antara lain :
1.              PUJANGGA LAMA ( abad ke-20 )

Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasikan karya sastra Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Karya sastra pada masa pujangga lama didominasi oleh syair, pantun, gurindam, dan hikayat. Di Nusantara budaya melayu klasik mendapat pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatra dan Semenanjung Malaya. Hamzah Pansuri adalah yang pertama diantara penulis-penulis angkatan pujangga lama dari Istana Kesultanan Aceh pada abad ke-17 muncul karya klasik selanjutnya yang paling paling terkenal adalah  karya Syamsudin Pasai, Abdul Rauf Singkir dan Nuruddin Ar-raniri.

*       Karya Sastra Pujangga Lama
a.   Hikayat

-        Hikayat Abdullah
-        Hikayat Aceh
-        Hikayat Amir Hamzah
-        Hikayat  Andaken Panurat
-        Hikayat Bayan Budiman
-        Hikayat Hang Tuah
-        Hikayat Iskandar Zulkarnaen
-        Hikayat Kadirun
-        Hikayat Kalia dan Damina
-        Hikayat Masyidullah
-        Hikayat Pandawa Jaya
-        Hikayat Panda Tonderan
-        Hikayat Putri Djohar Munikam
-        Hikayat Sri Rama
-        Hikayat Jenderal Hasan
-        Tasibul Hikayat



b.   Syair
-        Syair Bidasari
-        Syair Ken Tambuhan
-        Syair Raja Mambang Jauhari
-        Syair Raja Siam

c.   Kitab Agama
-        Syarab Al-Asyidiqin (minuman para pecinta) karya Hamzah Pansuri
-        Asrar Al-arifin (rahasia-rahasia gnostik) karya Hamzah Pansuri
-        Nur Ad-duqa’iq (cahaya pada kehalusan-kehalusan) karya Syamsudin Pasai
-        Bustan As-salatin (taman raja-raja) karya Nuruddin Ar-raniri

2.           SASTRA MELAYU LAMA ( 1870-1942 )

Karya sastra yang dihasilkan antara tahun 1870-1942 yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatra seperti “Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan Sumatra lainnya”, orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih berbentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.

*       Karya Sastra Melayu Lama
-        Robinson Crousoe (terjemahan)
-        Lawan-lawan Merah
-        Mengelilingi Bumi Dalam 80 Hari (terjemahan)
-        Grauf de Monte Cristo (terjemahan)
-        Rocambole (terjemahan )
-        Nyai Dasima oleh G.Prancis (Indo)
-        Bung Rampai oleh A.F.Bewali
-        Kisah Perjalanan Nahkoda Bontekoe
-        Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
-        Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R.Komer (Indo)
-        Cerita Nyonya Kong Hong Nio
-        Nona Leonie
-        Warna Sari Melayu oleh Kat.S.J
-        Cerita Si Conat oleh F.D.J.Pangemanan
-        Cerita Nyai Sarikem

3.            ANGKATAN BALAI PUSTAKA (1920)

Angkatan Balai Pustaka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, diterbitkan oleh “Balai Pustaka”. Prosa ( roman, novel, cerpen, drama ) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam, dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Tujuan Balai Pustaka didirikan adalah untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan sastra melayu rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian ( cabul ) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu melayu tinggi, bahasa jawa, dan bahasa sunda.
Nur Sultan Iskandar dapat disebut sebagai raja angkatan balai pustaka karena karya-karya tulisnya pada masa itu. Dilihat dari daerah asal kelahiran para pengarang, dapat dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah novel Sumatra dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya. Novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya cukup penting, keduanya mengkritik adat istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu.

*       Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka
1.        Merari Siregar
-   Azab dan Sengsara (1920)
-   Binasa Karena Gadis Priangan (1931)
-   Cinta dan Hawa Nafsu
2.      Marah Roesli
-   Siti Nurbaya (1922)
-   Laihami (1924)
-   Anak dan Kemenakan  (1956)
3.     Muhammad Yamin
-   Tanah Air (1922)
-   Indonesia Tumpah Darahku (1928)
-   Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
-   Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
4.      Nur Sultan Iskandar
-   Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
-   Cinta yang Membawa Maut (1926)
-   Salah Pilih (1928)
-   Tuba Dibalas Dengan Susu (1933)
-   Hulubalung Raja (1934)
-   Katak Hendak Menjadi Lembu
-   Karena Mentua (1932)
5.     Tulis Sutan Suti
-   Tak Disangka (1923)
-   Sensara Membawa Nikmat (1928)
-   Tak Membalas Guna (1932)
-   Memutuskan Pertalian (1932)
6.     Djamaluddin Adinegoro
-   Dara Muda (1927)
-   Asmara Jaya (1928)
7.      Abdul Muis
-   Salah Asuhan (1928)
-   Pertemuan Djodoh (1933)
8.     Aman Datuk Madjoindo
-   Menebus Dosa (1932)
-   Sicebol Merindukan Bulan (1934)
-   Sampaikan Salmaku Kepadanya (1935)

4.           PUJANGGA BARU

Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik, dan elistik.
Pada masa itu, terbit pula majalah pujangga baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930–1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Karyanya layar terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini novel Tengelamnya Kapal Vander Wijck dan Kalau Tak Untung menjadi karya penting sebelum perang.
Pada masa ini dua kelompok sastrawan Pujangga Baru yaitu :
1.    Kelompok “Seni Untuk Seni” yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah.
2.    Kelompok “Seni Untuk Pembangunan Masyarakat” yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, dan Rustam Effendi.

*       Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
1.        Sutan Takdir Alisjahbana
-   Dian Tak Kunjung Padam (1932)
-   Tebaran Mega- kumpulan sajak (1935)
-   Layar Terkembang (1936)
2.      Hamka
-   Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938)
-   Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939)
-   Tuan direktur (1950)
-   Di Dalam Lembah Kehidupan (1940)
3.     Armijn Pane
-   Jiwa Berjiwa Gamelan Djiwa- kumpulan sajak (1960)
-   Djinak-djinak Merpati- sandiwara (1950)
-   Kisah Antara Manusia (1953)
4.      Sanusi Pane
-   Pancaran Cinta (1926)
-   Puspa mega (1927)
-   Sandhykala Ning Majapahit (1933)
-   Kertajaya (1932)
5.     Tengku Amir Hamzah
-   Nyanyi Sunyi (1937)
-   Begawat Gita (1933)
-   Setanggi Timur (1939)

5.            ANGKATAN 1945

Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan “45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga Baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan “45 memiliki konsep yang diberi judul “Surat Kepercayaan Gelanggang” konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan “45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Selain Tiga Menguak Takdir dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.
*       Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
1.        Chairil Anwar
-   Kerikil Tajam (1949)
-   Deru Campur Debu (1949)
2.      Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
-   Tiga Menguak Takdir (1950)
3.     Idrus
-   Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
-   Aki (1949)
-   Perempuan Dan Kebangsaan
4.      Achdiat K.Mihardja
-   Atheis (1949)
5.     Trisno Sumardjo
-   Kata Hati dan Perbuatan (1952)
6.     Utuy Tatang Sontani
-   Suling (drama) (1948)
-   Tambera (1949)
-   Awal dan Mira – drama satu babak (1962)
7.      Suman Hs
-   Kasih ta’ Terlarai (1961)
-    Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
-   Pertjobaan Setia (1940)

6.            ANGKATAN 1950-1960an

Angkatan ’50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah Asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi oleh cerita pendek dan kompulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis di kalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (lekra) yang berkonsep sastra Realisme-Sosialis. Timbulnya perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di kalangan sastrawan Indonesia pada awal tahun 1960, menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karna masuk ke dalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.

*       Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950-1960an
1.        Pramoedya Ananta Toer
-   Keranji dan Bekasi Jatuh (1947)
-   Bukan Pasar Malam (1951) 
-   Di Tepi Kali Bekasi (1951)
-   Keluarga Gerilya (1951)
-   Mereka Yang Dilumpuhkan (1951) 
-   Cerita Dari Blora (1952)Gadis Pantai (1965)
2.      Nh. Dini
-   Dunia Dunia (1950)
-   Hati Jang Damai (1960)
3.     Sitor Situmorang
-   Dalam Sadjak (1950)
-   Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
-   Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
-   Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
-   Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)
4.      Muchtar Lubis
-   Tak Ada Esok (1950)
-   Jalan Tak Ada Ujung (1952)
-   Tanah Gersang (1964)
-   Si Djamal (1964)
5.     Marius Ramis Dayoh
-   Putra Budiman (1951)
-   Pahlawan Minahasa (1957)
6.     Ajip Rosidi
-   Tahun-tahun Kematian (1955)
-   Di Tengah Keluarga (1956)
-   Sebuah Rumah Untuk Hari Tua (1957)
-   Cari Muatan (1959)
-   Pertemuan Kembali (1961)
7.      Ali Akbar Navis
-   Robohnya Surau Kami- 8 cerita pendek pilihan (1955)
-   Bianglala- kumpulan cerita pendek (1963)
-   Hujan Panas (1964)Kemarau (1967)

7.           ANGKATAN 1966-1970an

Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Muchtar Lubis. Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbitan Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Montiggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rusanto, Goenawan Mohamad, dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia H.B. Jassin.
Beberapa sastrawan pada angkatan ini antara lain : Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C.Noer, Darmanto Jatman, Arif Budiman, Goenawan Muhamad, Budi Darma, Hamsat Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, DLL.

*       Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966-1970an
1.        Taufik Ismail
-   Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
-   Tirani dan Benteng
-   Buku Tamu Musim Perjuangan
-   Sajak Ladang Jagung
-   Kenalkan
-   Saya Hewan
-   Puisi-puisi Langit
2.      Sutardji Calzom Bachri
O
Amuk
Kapak
Abdul Hadi WM
Meditasi (1976)
Potret Panjung Pengunjung Pantai Sanur (1975)
Tergantung Pada Angin (1977)
3.     Abdul Hadi WM
-   Meditasi (1976)
-   Potret Panjung Pengunjung Pantai Sanur (1975)
-   Tergantung Pada Angin (1977)
4.      Supardi Djoko Damono
-   Dukamu Abadi (1969)
-   Mata Pisau (1974)
5.     Goenawan Muhamad
-   Perikesit (1969)
-   Interlude (1971)
-   Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Simalin Kundang (1972)
-   Seks, Sastra, dan Kita (180)
6.     Umar Kayam
-   Seribu Kunang-kunang di Manhattan
-   Sri Sumara dan Bawuk
-   Lebaran Di Karet
-   Pada Suatu Saat di Bandar Sangging
-   Kelir Tanpa Batas
-   Para Priyayi
-   Jalan Manikung
7.      Danarto
-   Godlob
-   Adam Makrifat
-   Berhala
8.     Nasjah Djamin
-   Hilanglah Si Anak Hilang (1963)
-   Gairah Untuk Hidup dan Mati (1968)
9.     Putu Wijaya
-   Bila Malam Bertambah Malam (1971)
-   Telegram (1973)   - Pabrik
-   Stasiun (1977)      - Gres dan Bom

8.            ANGKATAN 1980-1990an

Karya sastra Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada angkatan ini tersebar luas di berbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an antara lain adalah : Rami Sylado,Yudistria Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Aji Darma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Efendi Tarsyad, Noor Aini Cahaya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Huriko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, dimana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya tokoh utama pada novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-kaya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih dan berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Wanita yang dikomandoi  Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardanhi, Diah Hadaning, Yvonne De Fretes, dan Oka Rusmini.

*       Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980-1990an
1.        Ahmadun Yosi Herfanda
-   Ladang Hijau (1980)
-   Sajak Penari (1990)
-   Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
-   Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
-   Sembahyang Rerumputan (1997)
2.      Y.B Mangunwijaya
-   Burung-burung Manyar (1981)
3.     Darman Moenir
-   Bako (1983)
-   Dendang (1988)
4.      Budi Darma
-   Olenka (1983)
-   Rafilus (1988)
5.     Sundhunata
-   Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
6.     Arswendo Atmowilito
-   Canting (1986)
7.      Hilman Hariwijaya
-   Lupus – 28 novel (1986-2007)
-   Lupus Kecil – 13 novel (1989-2003)
-   Olga Sepatu Roda (1992)
-   Lupus ABG – 11 novel (1995- 2005)
8.     Dorothea Rosa Herliany
-   Nyanyian Gaduh (1987)
-   Matahari Yang Mengalir (1990)
-   Kepompong Sunyi (1993)
-   Nikah Ilalang (1995)
-   Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
9.     Gustaf Rizal
-   Segi Empat Patah Sisi (1990)
-   Segitiga Lepas Kaki (1991)
-   Ben (1992)
-   Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)
10.  Remy Silado
-   Ca Bau Kan (1999)
-   Kerudung Merah Kirmizi (2002)
11.     Afrizal Malna
-   Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (1987)
-   Yang Berdiam Dalam Mikrofon (1990)
-   Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991)
-   Dinamika Budaya dan Politik (1991)
-   Arsitektur Hujan (1995)
-   Pistol Perdamaian (1996)
-   Kalung Dari Teman(1998)

9.            ANGKATAN REFORMASI

Seiring terjadinya pergeseran kekuasaran politik  dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdulrahman Wahid (Gusdur) dan Megawati Soekarno Putri, muncul wacana tentang “Sastrawan Angkatan Reformasi”. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel yang bertema sosial-politik, khususnya seputar Reformasi. Di rubik sastra harian Repoblika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubik sajak-sajak peduli Bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan angktan Reformasih merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses Reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra, puisi, cerpen dan novel pada masa itu. Bahkan penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial-politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep zamzam Noer, dan Hartono Beny Hidayat dengan media online: duniasastra.com-nya , juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

*       Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
1.        Widji Thukul
-   Puisi Pelo
-   Darman

10.         ANGKATAN 2000an

Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasih muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karna tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya “Angkatan 2000”. Sebuah buku tebal tentang angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmad Yosi Herfanda, dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada 1990-an  seperti Ayu Utami, dan Dhorotea Rosa Herliany.

*       Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000an
1.        Ayu Utami
-   Saman (1998)
-   Larung (2001)
2.      Seno Gumira Ajidarma
-   Atas Nama Malam
-   Sepotong Senja Untuk Pacarku
-   Biola Tak Berdawai
3.     Dewi Lestari
-   Supernova 1: Ksatria Putri dan Bintang Jatuh (2001)
-   Supernova 2.1: Akar (2002)
-   Supernova 2.2: Petir (2004)
4.      Raudal Tanjung Banua
-   Pulau Cinta di Peta Buta (2003)
-   Ziarah Bagi Yang Hidup (2004)
-   Perang Tak Berulu (2005)
-   Gugusan Mata Ibu (2005)
5.     Habiburrahman El Shirazy
-   Ayat-ayat Cinta (2004)
-   Di Atas Sajadah Cinta (2004)
-   Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
-   Pudarnya Pesona Cleopatra(2005)
-   Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
-   Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
-   Dalam Mihrab Cinta (2007)
6.     Andrea Hirata
-      Laskar Pelangi (2005)
-      Sang Pemimpi (2006)
-      Edensor (2007)
-      Maryamah Karpov (2008)
-      Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas (2010)
7.      Ahmad Faudi
-   Negeri Lima Menara (2009)
-   Ranah Tiga Warna (2011)
8.     Tosa
-   Lukisan Jiwa (puisi) (2009)
-   Melan Conis (2009)

Rabu, 24 April 2013

Cintamu Seputih Melati

Kau tanam benih melati dihatimu
Kau sirami dengan kasih sayang dan cinta
Hingga tumbuh dan bersemi
Mekar dihatimu
Kau petik,kau rangkai
Dan kau persembahkan untukku
Cintamu seputih melati
Harum mewangi
Meluluhkan hati ini
Cintamu seputih melati
Tulus nan suci

Rabu, 10 April 2013

Tugas Sastra

1. Tuliskan beberapa realitas sosial yang ada disekitarmu !
2. Diantara realitas sosial itu manakah salah satu yang paling banyak bersinggungan dengan orang lain ?
3. Ubahlah realita sosial tersebut menjadi sebuah cerpen (sangat pendek) sesuai dengan yang ada (nama boleh fiktif)

Jawab:

1. a. Hamil diluar nikah
    b. Pencemaran udara akibat rokok
    c. Narkoba merajalela di sekolah-sekolah
    d. Menjadi pelacur karena faktor ekonomi

2. Menjadi pelacur karena faktor ekonomi

3. Kebutuhan keluarga Sarjono semakin meningkat terpaksa istri Sarjono yaitu Sarpini terpaksa merantau ke Riau, dengan harapan kebutuhannya didesa dapat tercukupi. Tapi tak disangka ia malah  semakin menderita disana. Hingga suatu malam ia menjual dirinya untuk mendapatkan uang. Suatu malam tetangga Sarjono yang juga merantau di Riau melihat Sarpini bersama seorang laki-laki. Ketika ia pulang, ia bercerita kepada Sarjono bahwa istrinya di Riau bekerja sebagai pelacur. Sajono menjadi gila sedangkan Sarpini menghilang entah kemana. 

Jumat, 22 Februari 2013

MASA LALU YANG KELAM


Langit menyembunyikan sang surya di balik tirai kelabunya yang tebal. Seolah mereka ikut merasakan betapa sakitnya hati ini tertusuk duri. Rintik-rintik kecil turun perlahan membasahi seluruh isi jagat raya seolah ingin mencurahkan seluruh amarahnya. Perlahan amarahnya reda dan sang surya mulai menghangatkan seluruh jagat raya.Tujuh bidadari-pun mulai nampak di angkasa dengan kegirangannya. Angin menari-nari menyejukkan suasana pagi yang tertunda. Begitu cepat jarum berputar,begitu indah kenangan yang lalu. Kenangan yang hanya menyisakan duka yang mendalam. Bahkan dalamnya lautan melebihi dalamnya dukaku karenanya. Perlahan mereka jatuh membasahi pipi saat ku kenang semua itu. Ku tak pernah menyangka jika akhirnya seperti ini. Ku tak pernah tahu jika janji yang dia ucap tak sama dengan realita. Dan aku tak pernah tahu sandiwara apa yang dia mainkan. Yang ku tahu hanyalah dia....dia....dan dia... yang selalu mencintaiku.
Tetapi ternyata dia PHP (Pemberi Harapan Palsu). Cinta memang telah merobohkan pendirianku,menghancurkan hidupku bahkan merusak diriku dan juga mengecewakan kedua orangtuaku. Dari sinilah aku mulai sadar bahwa cinta itu pembawa petaka bagi siapapun yang belum bisa mengartikan apa itu cinta,apa itu pengorbanan dan apa itu kasih sayang. Selama ini cinta telah menutupi mataku hingga aku tak dapat melihat sandiwara yang dia mainkan. Namun aku tak pernah menyesal dengan semua yang pernah ku lakukan karena aku jadikan kesalahanku itu sebagai pelajaran untuk aku lebih maju.
Hari pun semakin gelap dan mencekam. Tapi dukaku belum juga hilang. Kring....kring...kring....bunyi handphone mengagetkan ku. Ternyata kak Nia yang telfon.
“Hallo,assalamu’alaikum..” (jawab Ningsih sambil bersedih)
“Walaikum salam,adek lagi apa ?” (Kata Nia)
“Lagi...”(jawab Ningsih sambil melamun)
“Dek,kamu kenapa sih ? jawab pertanyaan kakak kok lama banget !!!!”  (tanya Nia penasaran)
“Gak apa-apa kok kak,Ningsih Cuma lagi sedih aja.” (mengusap air matanya)
“Sedih kenapa sayang?” (tanya Nia lagi)
“Kak,aku itu selalu kepikiran sama mantan aku apalagi dia itu selalu buat aku kangen sama dia.”(kata Ningsih sambil nangis)
“Ningsih....kamu itu harus sholat malam,biar hati dan pikiran kamu tenang. Kalau bisa kamu jangan mikirin cowok dulu,yang terpenting itu sekolah kamu sayang.” (nasehat Nia)
“Tapi kak....aku itu sayang sama dia.”(membantah)
“Iya...kakak tahu itu Ningsih,tapi kamu itu harus cuek sama dia biar perasaan kamu bisa terhapus.” (nasehat kakaknya lagi)
“Ningsih akan coba kak,kakak temenin Ningsih ya.?”(pinta Nia)
“Iya sayang,sudah dulu ya dek. Kakak mau kerja dulu. Kalau ada apa-apa sms kakak. Ok !!! Assalamu’alaikum.” (mengakhiri telfonnya)
“Walaikum salam.”
Tuuuuttt...tutttt....tutt Telfonnya pun terputus.
Setelah beberapa jam aku termenung meresapi apa yang dikatakan kak Nia, akupun menangis saat aku teringat perkataan mantanku.
“Aku nggak akan pernah ninggalin kamu sayang..aku sayang kamu. I LOVE U.”
Begitulah perkataannya saat dia masih bersamaku. Namun aku mengingat apa yang dikatakan kak Nia, kalau aku harus cuek sama mantanku supaya aku bisa menghapus perasaanku ke dia. Tak ada salahnya jika aku mencobanya, meskipun itu berat. Hari-hari aku lewati tanpa dia,tanpa orang yang kusayang. Kewajibanku-pun tak ku tinggalkan, aku menghadapnya, curhat dengannya dan sering pipi ini basah.
Setiap malam aku menulis sebuah buku diary yang hampir semuanya isinya tentang dia. Akhirnya aku menyadari bahwa selama ini aku hanya dijadikan sebuah boneka, boneka yang selalu dimainkan sesuka hatinya yang bisa dibuang kapanpun dia mau. Kring....kring....kring....handphoneku lagi-lagi mengagetkanku.
“Hallo... assalamu’alaikum..”(jawab Ningsih)
“Walaikum salam,gimana dek, udah bisa lupain dia belum ?” (tanya kak Nia)
“Alhamdulillah kak..aku udah bisa lupain dia. Ini semua berkat kakak yang selalu nasehatin aku. Terima kasih ya kak.” (jawab Ningsih)
“Iya adek...sama-sama.” (jawab kak Nia)
“Ehem-ehem...aku nggak dianggap ni.”(kata kak Awan)
“Hmmmm,kasihan...hehehe”(kata Ningsih & kak Nia)
“Ya udah ya kak, kakak ngobrol aja sama kak Awan,Ningsih mau tidur dulu ya.” (kata Ningsih)
“Rama pulang lo.” (kata kak Awan)
“Ku nggak peduli lagi kak, dia mau pulang atau enggak. Assalamu’alaikum”(kata Ningsih sedih)
“Walaikum....
Tutt...tuttt...tutt...belum sempat dijawab mereka, telfon sudah dimatikan oleh Ningsih.
Akupun tak bisa tidur nyenyak, aku masih teringat perkataan kak Awan yang bilang kalau Rama pulang. Apa tandanya....aku masih menyimpan rasa ke dia ya..???.

Selasa, 15 Januari 2013

Pengorbanan Simbok

          Langit masih terlihat petang saat ku terbangun karena kopkokan ayam. Ku lihat wajah seorang wanita yang kira-kira umurnya 34 tahun tengah sibuk didapur. Ia adalah SImbok. Setiap pagi ia bangun jam 4 untuk memasak. Sedangkan bapak dan adik masih tertidur pulas di kasur.Ku amati tingkah laku semua tingkah laku simbok. Saat ia melihatku ia mengajakku menghadap yang maha kuasa. Ku lihat simbok meneteskan air mata saat menyampaikan pesan ke yang maha kuasa,bukan kali ini saja aku melihat simbok meneteskan air mata. Namun setiap simbok menghadap yang kuasa ia selalu meneteskan air mata. Mungkin karena aku dan adikku selalu bandel.
          Hari liburanku telah tiba dan mungkin hari ini akan memberikan pengalaman yang baru untukku. Liburan yang biasanya di isi dengan liburan tapi berbeda dengan aku,karena aku mengantar simbokku ke pasar setiap pagi. Yamaha merah dan keranjang duren berwarna hijau menjadi tungganganku dan simbok. Aku tak pernah malu dengan apa yang ku lakukan ini karena niatku adalah meringankan beban simbok. Aku benar-benar kagum dengan simbok.
Bapak yang setiap pagi pergi kekebun memetik duren,telah sibuk mempersiapkan peralatan-peralatan yang akan dibawanya. Berangkatlah i9a kekebun. Ketika aku dan simbok akan berangkat ke pasar adikku baru bangun. Adik diberi uang oleh simbok agar tidak menangis tapi apa yang terjadi justru sebalikny. Dengan berat hati aku dan simbok pergi meninggalkan adikku yang sedang menangis. Simbok naik di atas keranjang hijau penuh duren itu.





           Aku mengerti sekarang betapa susahnya mencari uang itu. Dalam perjalanan simbok bertanya kepadaku.
" ndok...apa kamu ndak malu setiap hari ngantar simbok bawa keranjang ?" (tanya simbok dengan suara lemah lembut penuh kasih sayang)
"Endak mbok...kenapa saya harus malu? saya ingin meringankan beban simbok." (jawab Nia)
          Senang hati simbok mendengar jawaban anak perempuan satu-satunya itu. Sampai di pasar simbok menawarkan duren itu dengan harga Rp.50.000,00 per tali yang isinya 4 buah duren. Tak banyak upah yang didapat simbok namun,simbok tetap menjalani profesinya sebagai pedagang.
" Ndok,kita belanja dulu ya,untuk dijual lagi dirumah !!" (kata simbok)
"Iya mbok." (jawab Nia)
"Ndok...jangan pernah bosan ya ngantar simbok ke pasar setiap hari..?"(pinta simbok)
"Nia ndak akan bosan kok mbok...selama Nia masih bisa bernafas Nia akan selalu membantu simbok." (jawab Nia)
"Ini semua demi kebutuhan kamu sehari-hari ndok" (jawab simbok lagi)
"Iya mbok Nia tahu,Mbok... Nia lapar...!!!!" (jawabnya sambil memegang perutnya)
"Ya sudah ayo kita sarapan dulu di warung soto pojok itu." (kata simbok)
"Ayo mbok"
          Sang surya pun tengah berada di atas kepala seolah kepala ini terpanggang oleh panasnya sang surya. Belanja telah selesai waktunya pulang dan beristirahat. Tak lupa simbok membeli oleh-oleh untuk adek. Begitulah hari-hari yang dilalui simbok. Pengorbanannya yang begitu besar untuk anaknya itu sungguh mengagumkan.

Minggu, 13 Januari 2013

Kenangan Terindah


Begitu sakit hati ini mengingat kenangan indah kita...
Kenangan yang membuatku tersenyum....
Namun sekarang hanya percikan luka yang tersisa dalam hati ini...
Aku tahu aku tak bisa menjadi seperti yang kau mau....
Aku sadar...cinta kita itu terlarang..
Tapi selama kita berusaha...
Aku yakin...cinta kita dapat di restui...
Namun kau menyerah begitu saja....
Keajaiban itu ada...
Dan aku percaya suatu saat kita pasti di restui...
Tapi kau malah pergi dariku...Meninggalkanku bersama sepiku
Kini aku tak kan lagi memintamu untuk tetap disampingku..
Karena aku menyadari bahwa aku tak pantas kau dampingi..
Cintamu telah membuat hatiku membeku...
Menggoreskan luka di hatiku...
Entah mengapa sampai saat ini ku masih mencintaimu...
Padahal kau telah berulang kali melukaiku...